Langsung ke konten utama

Sebelum Sebuah Rumah Dihuni

“Have you ever been so deeply disappointed with the world — because everything you carefully planned, from A all the way to Z, fell apart because of a plan far greater than yours? And you cursed under your breath, convinced that the universe was being unfair, carelessly destroying everything you had built…”

Ada suatu masa ketika usia tidak lagi sekadar bilangan yang bertambah setiap tahun. Ia mulai terasa seperti sesuatu yang perlahan mengetuk pintu kehidupan—pelan, tetapi kian nyata.

Pada usia tertentu, undangan pernikahan datang lebih sering daripada dahulu. Nama-nama yang pernah akrab di masa muda kini tercetak berdampingan di atas kertas, disusul kabar tentang rumah yang mulai dihuni, tentang anak yang lahir, tentang dua insan yang memilih berjalan beriringan hingga usia senja.

Sementara itu, ada yang masih berjalan seorang diri.

Bukan lantaran ia tidak mendambakan sebuah rumah, bukan pula karena hatinya telah tertutup bagi kasih. Hanya saja, hingga sejauh ini, belum ada perjumpaan yang membuatnya ingin berhenti dan berkata dalam hati: barangkali, dengan orang ini, perjalanan dapat diteruskan.

Usia pun terus bertambah, sebagaimana musim yang datang dan pergi tanpa menunggu siapa pun.

Dua puluh menjadi dua puluh satu, dua puluh lima menyusul, kemudian angka-angka lain yang dahulu terasa begitu jauh mulai berdiri di hadapan mata. Rambut perlahan mengenal uban, wajah menyimpan lebih banyak waktu, dan hari-hari yang dahulu terasa panjang mulai berlalu dengan langkah yang entah mengapa lebih lekas.

Namun barangkali, tidak ada yang perlu ditakutkan dari menjadi tua.

Sebab pernikahan bukanlah pintu yang harus diketuk sebelum usia tertentu. Ia bukan perlombaan tentang siapa yang lebih dahulu sampai, bukan pula ukuran tentang siapa yang paling berhasil menjalani kehidupan.



Pernikahan adalah sebuah rumah.

Dan rumah, betapapun indahnya, tidak sepatutnya dibangun tergesa-gesa hanya karena malam telah tiba.

Lebih baik menunggu seseorang yang benar-benar hendak tinggal, daripada membuka pintu bagi seseorang yang hanya pandai singgah.

Lebih baik sebuah kesunyian yang jujur, daripada keramaian yang membuat hati merasa sendiri.

Barangkali memang demikian cara hidup menjaga sebagian manusia: membiarkan mereka menunggu sedikit lebih lama, menyaksikan satu demi satu orang lain menemukan tempatnya, sementara ia masih berjalan di jalan yang belum diketahui ujungnya.

Dan mungkin, pada suatu hari nanti, ketika seseorang itu akhirnya datang, ia akan menoleh kepada tahun-tahun yang telah berlalu dan mengerti:

bahwa tidak semua penantian adalah keterlambatan, tidak semua kesendirian adalah kehilangan, dan tidak setiap pintu yang tertutup berarti kehidupan sedang menolak.

Ada pintu yang tidak dibukakan karena di baliknya bukan rumah yang dicari.

Dan barangkali, ada sebuah rumah yang sedang menunggu—bukan untuk segera dihuni, melainkan untuk ditemukan oleh dua hati yang telah cukup dewasa untuk tinggal, cukup lapang untuk memahami, dan cukup setia untuk tidak pergi hanya karena musim telah berganti.

Sebab pada akhirnya, yang paling indah bukanlah tiba lebih dahulu.

Melainkan tiba pada tempat yang benar, bersama seseorang yang benar, pada waktu yang tidak perlu dipaksakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramadhan: Saatnya Kembali Menemukan Diri

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan ata s kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad)      Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang dan pergi. Ia adalah cahaya yang Allah kirimkan setiap tahunnya, memberi kita ruang untuk berbenah, kesempatan untuk mendekat, dan waktu untuk benar-benar mengingat. Namun, apakah kita sungguh memahami kehadirannya, ataukah hanya menjalaninya seperti ritual tahunan yang berlalu begitu saja?      Dalam bukunya Purification of the Heart, Hamza Yusuf mengingatkan bahwa hati manusia ibarat cermin—ia bisa berdebu dan kehilangan kejernihannya. Ramadhan hadir sebagai waktu untuk membersihkan cermin itu, agar kita bisa kembali melihat kebenaran dengan jelas. Ia bukan sek...

Tetaplah dalam Penjagaan Meskipun Jatuh Cinta

  Tetaplah dalam Penjagaan Meskipun Jatuh Cinta       Berbicara mengenai cinta memang merupakan topik yang cukup berat, terutama bagi para pemuda yang sedang berusaha teguh dalam pendirian untuk menjaga kesucian dirinya.  Manusia diciptakan oleh Allah SWT berpasang-pasangan, antara lelaki dan perempuan. Manusia dianugerahi perasaan cinta dan kasih sayang. Oleh karena itu, menjadi fitrahnya manusia ingin mencintai dan dicintai satu sama lain. Jika kebutuhan mencintai dan dicintai terpenuhi, hatinya menjadi tenteram, damai, dan bahagia.  Pertanyaannya, "Mengapa Allah menanamkan rasa cinta pada diri manusia? Apakah cinta merupakan sumber kebahagiaan? Ataukah justru penyebab berbagai masalah kemanusiaan? Bagaimana mengaktualisasikan "fitrah cinta" manusia dalam rangka mewujudkan ketaatan dan dedikasi sejati kepada Allah SWT dan dalam menjalani kehidupan rumah tangga?"       S ejatinya cinta adalah fitrah manusia sekaligus merupakan anugerah ...