“Have you ever been so deeply disappointed with the world — because everything you carefully planned, from A all the way to Z, fell apart because of a plan far greater than yours? And you cursed under your breath, convinced that the universe was being unfair, carelessly destroying everything you had built…” Ada suatu masa ketika usia tidak lagi sekadar bilangan yang bertambah setiap tahun. Ia mulai terasa seperti sesuatu yang perlahan mengetuk pintu kehidupan—pelan, tetapi kian nyata. Pada usia tertentu, undangan pernikahan datang lebih sering daripada dahulu. Nama-nama yang pernah akrab di masa muda kini tercetak berdampingan di atas kertas, disusul kabar tentang rumah yang mulai dihuni, tentang anak yang lahir, tentang dua insan yang memilih berjalan beriringan hingga usia senja. Sementara itu, ada yang masih berjalan seorang diri. Bukan lantaran ia tidak mendambakan sebuah rumah, bukan pula karena hatinya telah tertutup bagi kasih. Hanya saja, hingga sejauh ini, belum ada perjumpaan...
Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan ata s kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad) Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang dan pergi. Ia adalah cahaya yang Allah kirimkan setiap tahunnya, memberi kita ruang untuk berbenah, kesempatan untuk mendekat, dan waktu untuk benar-benar mengingat. Namun, apakah kita sungguh memahami kehadirannya, ataukah hanya menjalaninya seperti ritual tahunan yang berlalu begitu saja? Dalam bukunya Purification of the Heart, Hamza Yusuf mengingatkan bahwa hati manusia ibarat cermin—ia bisa berdebu dan kehilangan kejernihannya. Ramadhan hadir sebagai waktu untuk membersihkan cermin itu, agar kita bisa kembali melihat kebenaran dengan jelas. Ia bukan sek...